Kamis, 30 Juni 2016 - 09:16:54 WIB
STRATEGI DERADIKALISASI KEAGAMAAN DENGAN GERAKAN REINTERPRETASI, KONTEKSTUALISASI DAN RASIONALISASI
Diposting oleh : Tomy Dwi Susanto
Kategori: Produk dan Layanan - Dibaca: 92 kali

STRATEGI DERADIKALISASI KEAGAMAAN DENGAN GERAKAN REINTERPRETASI, KONTEKSTUALISASI DAN RASIONALISASI

Zainul Muhibbin[1]

Moh. Saifulloh

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

Emaiil: muhibbin@mku.its.ac.id,

Abstrak: Fenomena radikal dalam hubungannya dengan keagamaan yang meliputi radikalisme dan aksi radikal dewasa ini sangat menarik untuk dicermati dan penting untuk diperhatikan lebih serius. Radikalisme, baik sebagai paham, gerakan dan aksi dapat berimplikasi luas dalam dinamika kehidupan. Implikasi itu bisa berupa gangguan terhadap perkembangan dan stabilitas ekonomi, politik, sosial dan budaya, bahkan dapat menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman dalam kehidupan masyarakat luas. Untuk menghindari salah pengertian maka terminologi dan taksonomi sekitar radikalisme akan dibahas seperlunya. Dari hasil kajian dan pembahasan dapat dipahami bahwa terdapat perbedeaan karakteristik antara radikalisme wacana dan radikalisme aksi (perilaku). Radikalisme wacana lebih dilatarbelakangi oleh hasil interpretasi dan klaim kebenaran terhadap pemahamannya, sedangkan radikalisme perilaku lebih dilatarbelakangi faktor kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap keadaan tertentu serta emosional keagamaan. Dari segi gerakannya, dapat dilihat dari sebatas memaksakan wacana dan ideologi hingga tindakan anarkis bahkan terorisme. Radikalisme dapat dihadapi dengan gerakan reinterpretasi dan kontekstualisasi pemahaman sehingga terjadi perubahan wacana, dan rasionalisasi sikap yang lebih obyektif dan realistis sehingga dapat menghasilkan perubahan perilaku. Pada akhirnya agenda aksi perlu dirumuskan untuk menindaklanjuti gerakan deradikalisasi. Agenda aksi ini melibatkan berbagai pihak, yaitu lembaga pemerintah, swasta, LSM, ormas keagamaan dan lain-lain sesuai kompetensinya.

Kata kunci: Deradikalisasi, reinterpretasi, rasionalisasi, perubahan perilaku.

 

Pendahuluan

Dinamika dalam kehidupan merupakan suatu hal yang wajar. Kehidupan beragama dalam masyarakatpun juga mengalami gelombang dinamika. Sikap dan perilaku keberagamaan dalam masyarakat menampakkan adanya pola moderat dan radikal. Fenomena radikal dalam hubungannya dengan keagamaan yang meliputi radikalisme dan aksi radikal dewasa ini sangat menarik untuk dicermati dan penting untuk menjadi fokus perhatian yang lebih serius. Hal ini karena radikalisme, baik sebagai paham, gerakan dan aksi dapat berimplikasi luas dalam dinamika kehidupan di masyarakat. Implikasi itu bisa berupa gangguan terhadap perkembangan dan stabilitas ekonomi, politik, sosial dan budaya, bahkan dapat menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman dalam kehidupan masyarakat luas.

Pola radikalisme keagamaan dalam masyarakat dapat dikatakan terdapat dua corak, yaitu radikalisme wacana dan radikalisme perilaku. Radikalisme wacana adalah sikap radikal dalam pemikiran-pemikiran, ajaran (aliran) dan ideologi yang dipegangi. Corak radikalisme ini menampilkan militansi tinggi dalam perjuangannya mendakwahkan dan mempropagandakan ajaran Islam pendirian mereka dengan gencar dan doktrin yang kuat. Sikapnya cenderung mengklaim dirinya paling benar, ”ajaran” yang mereka wacanakan harus dianggap sebagai teks syar’i, sehingga siapapun yang menolaknya dianggap menolak syari’at.

Adapun radikalisme perilaku adalah sikap radikal yang ditindaklanjuti dengan aksi radikal. Corak radikalisme yang ini tidak sekedar mempropagandakan ”ajaran” radikal melainkan bertindak dan melakukan gerakan-gerakan radikal yang cenderung anarkis bahkan teror. Visi agama sebagai penguasa alam untuk mewujudkan zaman ideal diyakini sebagai kehendak Allah yang harus diwujudkan dengan jihad. Mereka membolehkan segala cara ditempuh untuk mencapai tujuan. Orang lain yang tidak sependapat dinilai tidak kuat iman, dan yang beda agama dianggap kafir sekaligus musuh agama.

Fenomena radikalisme di atas telah melahirkan problem masyarakat, sikap eksklusif dan kurang bersahabat dapat mengganggu psikologis masyarakat. Ikatan ukhuwah dan rasa keakraban sebagai sesama umat telah terusik, masyarakat awam merasa terpinggirkan sebagai golongan ”lemah iman”. Lebih buruk lagi akibat yang disebabkan oleh anarkisme dan terorisme, kenyamanan dan  rasa aman menjadi terganggu, masyarakat menjadi merasa kuatir bahkan terancam. Di sisi lain, radikalisme semacam ini dapat mengakibatkan munculnya problem pandangan dari luar tentang Islam yang tidak toleran, anti demokrasi, tidak menghargai hak asasi manusia dan sebagainya. Latar belakang inilah yang menjadi alasan kajian ini perlu dilakukan, untuk mengungkap apa, mengapa dan bagaimana sebenarnya radikalisme itu? Kemudian merumuskan langkah strategis untuk menetralisir dengan pola pemahaman yang lebih kontekstual dan autentik sehingga dapat melahirkan perilaku yang lebih bijaksana dan damai.



[1] Drs. Zainul Muhibbin, M.Fil.I dan Drs. Moh. Saifulloh, M.Fil.I., dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Agama Islam pada Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

SELENGKAPNYA