Kamis, 30 Juni 2016 - 09:20:59 WIB
PENDEKATAN SUFISTIK PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UPAYA DERADIKALISASI AGAMA
Diposting oleh : Tomy Dwi Susanto
Kategori: Produk dan Layanan - Dibaca: 139 kali

 

Fadloli

Politeknik Negeri Malang

Email: afdlol@yahoo.com

Abstrak : Kehadiran Islam adalah untuk membangun peradaban umat manusia unggul, penuh cinta dan kasih sayang. Namun  dalam realitas sekarang ini wajah agama sering tampil dengan kekerasan, radikalisme, terorisme, konflik dan peperangan sehingga agama kehilangan pesan nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Bahasa agama dan bahasa umat mengalami keterputusan. Bahasa agama   dalam teks-teks kitab suci  telah dipahami oleh sebagin orang  secara eksklusif dan emosional  sehingga menjelma ”agama kebencian” dengan mengubur  ”agama cinta” sebagai misi utama Islam. Pendidikan agama memiliki peran yang strategis  untuk  membangun  kasih sayang, menumbuhkan kesadaran diri dalam mengaktualkan potensi kefitrahan manusia menuju integritas peribadi profesional. Tentu saja pendidikan agama tidak hanya mengembangkan aspek dhohir meningggalkan yang bathin, tidak hanya mengandalkan rasionalitas meninggalkan yang spiritualitas. Jika perinsip kesimbangan dalam pendidikan agama tidak diperhatikan, pada  akhirnya  pendidikan agama akan kehilangan makna dan tidak lagi menjadi etos kebajikan dan kemanusiaan.

                  Fenomena  tersebut  menarik untuk  dilakukan kajian pemikiran  tentang  pendekatan sufistik pendidikan agama Islam di tengah berbagai macam pendekatan pendidikan agama yang ada, dalam upaya  deradikalisasi agama dan keberagamaan  menuju  kedamaian dan kebahagiaan  umat manusia. Tulisan ini menyajikan fenomena pendidikan agama Islam yang termuat dalam pendaluan, dilanjutkan dengan pendidikan agama dalam sorotan, dan transformasi spiritualisasi pendidikan serta memberikan tawaran langkah-langkah pendekatan sufistik pendidikan agama Islam.

 

Kata kunci: Pendekatan Sufistik PAI

Pendahuluan

Islam sebagai agama yang Rahmah tidak hanya memberi fondasi  tentang  tazkiyah al-nafs (pensucian diri) tetapi juga secara ideal telah memberi arah untuk mewujudkan tazkiyah al-madaniyyah (pensucian peradaban). Hilangnya tazkiyah al-anfs dan tazkiyah al-madaniyyah dalam kehidupan masyarakat modern berdampak pada kehidupan materialistik dan rasionalistik. Dalam proses dinamikanya kehidupan modern   melahirkan goncangan kejiwaan, kegelisahan bahkan krisis makna kehidupan

Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya Islam and the Challenge of the Centrury ( Muhaimin, 2005: 206), mengemukakan sejumlah tantangan yang dihadapi oleh Dunia Islam pada abad ke-21, yaitu (1) Krisis Lingkungan; (2) tantangan global; (3) post modernisme; (4) sekularisasi kehidupan; (5) Krisis ilmu pengetahuan dan teknologi; (6) penetrasi nilai-nilai non Islam; (7) citra Islam; (8) sikap terhadap peradaban lain; (9) feminisme; (10) hak asasi manusia; dan (11) tantangan internal.

Jika mencermati pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh  pemikir dan ilmuan tersebut diatas, bahwa sebagai obat untuk mengatasi berbagai problem masyarakat, seperti kelaparan, penyakit, penindasan, polusi dan berbagai penyakit sosial lainnya, adalah to return to god through religion (kembali kepada Tuhan melalui agama), maka masih sangat aktual untuk menjadikan madrasah/ pendidikan agama sebagai wahan utnuk membina ruh dan praktek hidup ke Islaman.

Namun yang terjadi, pendidikan Agama Islam selama ini hanya  menitik tekankan pada aspek lahiri  dan meninggalkan aspek bathini (esensi). Pendidikan agama Islam di perguruan tinggi umum selama ini juga banyak menitik tekankan pada aspek intelektual. Pendidikan agama berorientasi pada belajar tentang ilmu agama, banyak mengetahui nilai ajaran agama, tapi perilakunya tidak mencerminkan nilai agama.

   Imron (2008) dalam dialog ”Budaya Pendidik dan Pendidikan dalam Sudut Pandang Budaya dan Agama”, memberikan kritik yang tajam tentang tentang pendidikan. Beliau mengatakan bahwa pendidik dan pendidikan sekarang kehilangan rasa ”Cinta” (cinta kepada Tuhan, Alam dan manusia), sehingga menghasilkan manusia-manusia yang korup dan suka hutang dan melahirkan kekerasan di sekolah dan masyarakat bahkan negara.

Umar (2009) dalam ”seminar” PAI di Universitas Brawijaya menyatakan, bahwa ada kecenderungan ”fundamentalisme ajaran Islam tumbuh dan berkembang pada  perguruan tinggi umum”, dan Gerakan sekularisasi dan leberalisasi tumbuh dan berkembang di perguruan tinggi agama Islam.

Muzadi (Jawa Pos, 20/3/2010) melihat sebuah paradoks dalam dunia pendidikan Islam. Mahasiswa di Universitas umum kini cenderung terlibat dalam gerakan-gerakan Islam fundamentalis, terutama mahasiswa dari kelompok ilmu eksakta. Kebalikannya, mahasiwa di Universitas Islam justru cenderung menganut aliran liberal, mungkin mahasiswa ini asal pondok pesantren, bertahun-tahun jadi santri, sehingga bosan menjadi anak yang  soleh, pingin sekali-kali nakal.  Sebaliknya, mahasiswa-mahasiswa di peruguruan tinggi umum justru merasa kering dan menemukan kesejukan di gerakan fundamentalis.

Pada sisi lain,   dosen agama Islam dihadapkan pada perubahan sosial yang cepat. Dalam hal ini ada tiga  strategi perubahan sosial dalam masyarakat bahkan perguruan tinggi yang terus bertarung. Pertama, strategi radikal.  Mereka  menginginkan perubahaan yang cepat dan menyeluruh sampai ke akar-akar kehidupan masyarakat. Mereka berfikir hitam putih, yakni bahwa di dunia ini hanya ada masyarakat Islam dan kafir. Mereka menolak apa-apa yang berbau Barat. Kedua, strategi reformis. Mereka menggunakan strategi ini menghendaki perubahan secara bertahap. Mana yang bagus diteruskan, dan yang jelek ditinggalkan, dan menerima inovasi-inovasi yang positif. Ketiga, strategi akomodasionis. Pandangan ini menghendaki keharmonisan, sehingga adat istiadat dan budaya lokal sebaiknya dipertahankan untuk keharmonisan di tengah-tengah masyarakat (Mughni, 2008).

Untuk menghadapi pola pemikiran tersebut, maka dosen agama Islam senantiasa mengembangkan pola pemahaman yang holistik tentang Islam. Dosen agama juga harus berusaha menyatukan antara Islam Ideal (norma yang terkandung dalam kitab suci) dengan Islam interpretasi dan Islam hostoris (dalam konteks realitas), sehingga pendidikan agama Islam berwajah kemanusiaan.

Pendekatan sufistik merupakan alternatif tawaran untuk menjadikan agama lebih terbuka (inklusif) dalam mengembangkan dialog peradaban dengan prinsip kebenaran dan kebaikan. Pendekatan sufistik  pendidikan agama Islam merupakan sebuah proses pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik untuk menyentuh kesadaran nurani mahasiswa untuk mencintai amal kemanusiaan dan menikmati rasa lezatnya beragama. Pendekatan ini berusaha mewujudkan keseimbangan akal dan hati,  antara yang rasional dan spiritual,  sehingga peserta didik bisa menampilkan ”agama cinta”, cinta kepada Tuhan, manusia dan lingkungan semesta.

SELENGKAPNYA