Kamis, 30 Juni 2016 - 09:22:54 WIB
FIQHUL IKHTILAF, SEBUAH PENDEKATAN PEMBELAJARAN UNTUK MEMINIMALISIR PEMAHAMAN DAN AKSI RADIKAL
Diposting oleh : Tomy Dwi Susanto
Kategori: Produk dan Layanan - Dibaca: 141 kali

FIQHUL IKHTILAF, SEBUAH PENDEKATAN PEMBELAJARAN UNTUK MEMINIMALISIR PEMAHAMAN DAN AKSI RADIKAL

Syafaat

Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

Pendahuluan

Kata ”Ikhtilaf” memiliki beberapa makna yang saling berdekatan, di antaranya; tidak sepaham atau tidak sama. Orang Arab mengatakan khalaftuhu- mukhalafatan-wa khilaafan atau takhaalafa alqaumi wakhtalafuu apabila masing-masing berbeda pendapat dengan yang lainnya. Jadi ikhtilaf itu adalah perbedaan jalan, perbedaan pendapat atau perbedaan manhaj yang ditempuh oleh seseorang atau sekelompok orang dengan yang lainnya.

Dalam bukunya berjudul Fiqhul Ikhtilaf, DR. Yusuf Qardhawi menguraikan secara panjang lebar tentang perlunya ummat Islam memahami perbedaan pendapat yang muncul. Merupakan suatu hal yang wajar jika Islam menghadapi musuh dari luar, sesuai sunnat al-tadaafu’ (sunnah pertarungan) antara yang haq dan yang bathil, sebagaimana ketetapan Allah pada surat Al Furqan 31 yang artinya,”Demikianlah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa.” Yang perlu dikhawatirkan adalah jika musuh itu datang dari dalam tubuh Islam sendiri, gerakan Islam yang satu dengan gerakan Islam lainnya. Perbedaan yang terlalu dibesarkan dan dipermasalahkan dan menimbulkan perpecahan. Oleh sebab itu kita sangat memerlukan kesadaran yang mendalam mengenai apa yang disebut Fiqhul Ikhtilaf termasuk pada ranah perbedaan mazhab fiqih.

Dalam kamus fikih Mu’jam Lughat al-Fuqaha’, Rawwas Qal’ah Jie (1996:389) menyatakan bahwa mazhab adalah metode tertentu dalam menggali hukum syariah yang bersifat praktis dari dalil-dalilnya yang bersifat kasuistik.  Dari metode penggalian hukum inilah, kemudian lahir mazhab fikih.

Dalam perkembangannya, istilah mazhab juga digunakan bukan hanya dalam konteks fikih, tetapi juga akidah dan politik. Sebut saja Abu Zahrah (tt:3), dalam bukunya, Târîkh al-Madzâhib al-Islâmiyyah: Fî as-Siyâsah, wa al-’Aqâ’id wa Târîkh al-Fiqh al-Islâmi menegaskan bahwa semua mazhab tersebut masih merupakan bagian dari mazhab Islam. Beliau kemudian melakukan klasifikasi, antara lain, mazhab politik, seperti Syiah dan Khawarij; bisa juga ditambahkan, Ahlussunnah dan Murjiah. Kemudian mazhab akidah seperti Jabariyah, Qadariyah (Muktazilah), Asy’ariyah, Maturidiyah, Salafiyah dan Wahabiyah. Adapun mazhab fikih adalah seperti Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, Hanabilah, Zahiriyah, Zaidiyah dan Ja’fariyah.

Meski demikian, tetap harus dicatat, bahwa sekalipun mazhab Islam tersebut banyak, bukan berarti umat Islam tidak lagi memiliki kesatuan akidah, sistem dan politik. Sebab, perbedaan mazhab tersebut tetap tidak mengeluarkan umat Islam dari ranah akidah, sistem dan politik Islam. Di samping itu, perbedaan tersebut merupakan keniscayaan faktual dan syar’i.

Secara faktual, potensi intelektual yang diberikan oleh Allah kepada masing-masing orang jelas berbeda. Dengan perbedaan potensi intelektual tersebut, mustahil semua orang bisa menarik kesimpulan yang sama ketika berhadapan dengan nas-nas syariah. Belum lagi ungkapan dan gaya bahasa (uslûb) al-Quran dan Hadis Nabi—yang nota bene berbahasa Arab—mempunyai potensi multi-interpretasi (ta’wîl), baik karena faktor ungkapan maupun susunan (tarkîb)-nya.

Adapun secara syar’i, dilihat dari aspek sumber (tsubût)-nya, nas-nas syariah tersebut ada yang qath’i, seperti al-Quran dan Hadis Mutawatir, dan ada yang zhanni, seperti Hadis Ahad. Untuk konteks dalil qath’i tentu tidak ada perbedaan terkait dengan penggunaannya untuk membangun argumen (istidlâl). Namun, dalam menentukan tempat-tempat yang qath’i dan dzanni serta berapa jumlahnya juga masih diperdebatkan.

SELENGKAPNYA