Kamis, 30 Juni 2016 - 09:25:05 WIB
ISLAM DAN RADIKALISME
Diposting oleh : Tomy Dwi Susanto
Kategori: Produk dan Layanan - Dibaca: 115 kali

ISLAM DAN RADIKALISME

M. Sulthon

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Panca Marga Probolinggo

Email: sulthonmuhammad99@yahoo.co.id

Pendahuluan

            Radikalisme dalam dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau perubahan sosial dan politik dengan kekerasan dan drastis. Sementara dalam Kamus al-Maurid dikatakan radikalitas adalah kemauan untuk mengadakan perubahan-perubahan secara ekstrem dalam pemikiran-pemikiran dan tradisi-tradisi yang umum berlaku, atau dalam situasi dan institusi-institusi yang eksis.

Dengan demikian radikalisme agama dapat dianalogkan dengan pengertian tersebut, yaitu: ” paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan agama dengan cara drastis, ekstrem dan dengan kekerasan”.

          Belakangan ini radikalisme agama menjadi persoalan global, dianggap sebagai pemicu aksi terorisme yang mengganggu keamanan dan kedamaian di mana-mana. Radikalisme agama tidak hanya terjadi pada agama tertentu saja tetapi semua agama besar di dunia mengalaminya. Misalnya, radikalisme agama Protestan di Amerika Serikat, antara lain yang digerakkan oleh Timothy McVeigh dari Christian Identity. Radikalisme agama Islam, seperti gerakan al-Qaidah yang dipimpin Usamah bin Laden di beberapa negara, atau Boko Haram di Negeria, dan belakangan yang menghebohkan dunia munculnya ISIS yang dideklarasikan Abu Bakar al-Baghdadi di Irak Utara.

Pandangan Islam Tentang Radikalisme

Sungguh tidak mudah mengaitkan antara Islam dan ektrimisme. Pertanyaan yang segera muncul: apakah Islam mengajarkan ekstremisme atau radikalisme? Jawaban atas pertanyaan ini selalu problematik. Sebab, agama (Islam atau agama apapun) secara taken for grandted dipandang sebagai instrumen ilahiah yang mengajarkan hal-hal serba ”baik”. Bagaimana mungkin kita bisa mengkaitkan agama dengan ekstremisme sesuatu yang secara inheren dianggap mengandung hal-hal yang tidak ”biasa” dan seringkali dipandang secara pejorative. Dalam perspaktif seperti ini agama dan ekstremisme sering dilihat sebagai sesuatu yang kontradiktif.

Namun demikian, dalam kenyataan sehari-hari, kaitan erat antara agama dan ekstremisme merupakan hal yang mudah ditemui. Meskipun pada tataran penilaian banyak orang berusaha mengelak untuk mengkaitkan antara agama dan ekstremisme, realitas menunjukkan bahwa ekstremisme atau radikalisme keagamaan itu sering dijumpai.

Perlu ditambahkan, bahwa pada dasarnya ada keengganan bagi banyak kalangan umat beragama untuk melihat potensi antara agama dan ekstremisme. Sikap enggan ini bukan didasarkan semat-mata untuk membela agama tertentu tetapi karena fungsi agama memang bukan untuk mendorong tindakan-tindakan yang bersifat ekstrem, radikal, dan berbau negatif. Agama selalu berbicara tentang hal-hal yang baik, serba agung, untuk menciptakan tatanan yang dalam perspektif, misalnya Islam ”Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”. Masyarakat Jawa menyebutnya ”Negeri gemah ripah lohjinawi, toto tentrem kerto raharjo”, atau dalam pandangan para sosiolog barat, agama dimaksudkan untuk menciptakan ”the good society”. Inilah kira-kira yang menjadi fungsi universal agama-agama yang ada.

Meskipun begitu, terlepas dari paparan di atas, siapapun pada dasarnya sulit untuk mengingkari adanya tindakan-tindakan ekstrem yang setidaknya membawa bendera-bendera agama kalau bukan justru diinspirasi dan dimotivasi oleh cara pandang serta pemahaman tertentu terhadap doktrin-doktrin agama. Dan, dalam konteks perkembangan global dewasa ini, komunitas Islam sulit untuk menghindar dari pertanyaan apakah Islam mendakwahkan ekstremisme? Tentu dengan semangat subyektifitas keagamaan, setiap muslim akan menjawab dengan nada negatif. Dengan kata lain, Islam tidak pernah mengajarkan ekstremisme. Kendatipun mereka mengetahui bahwa ada banyak tindakan ekstrem yang bisa dikait-kaitkan dengan Islam [1]. (jangan lupa, hal yang sama juga bisa dikenakan terhadap agama-agama lain), setidak-tidaknya mereka akan mengatakan tidak ada doktrin dan prinsip Islam yang menganjurkan ekstremisme.



[1] Mun’im A. Sirry, Membendung Militansi Agama, iman dan politik dalam masyarakat modern. Jakarta : erlangga, 2003, h. 33.

 

SELENGKAPNYA