Kamis, 30 Juni 2016 - 09:26:33 WIB
BAHASA SANTUN DALAM Al QUR’AN DAN PENGGUNAANNYA UNTUK MENGURANGI DAMPAK RADIKALISME PRILAKU
Diposting oleh : Tomy Dwi Susanto
Kategori: Produk dan Layanan - Dibaca: 116 kali

BAHASA SANTUN DALAM Al QUR’AN DAN PENGGUNAANNYA

UNTUK MENGURANGI DAMPAK RADIKALISME PRILAKU

Moh. Khasairi

Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

Email: mqusyairi29@yahoo.com

Abstrak: Sejak diperkenalkan oleh Rasulullah SAW Islam merupakan agama yang damai dan diajarkan dengan cara-cara yang tidak mengenal kekerasan. Akhlak dan prilaku beliau yang mulia terhadap siapa saja menjadi salah satu kunci suksesnya penyebaran Islam. Dalam perkembangan selanjutnya muncul penyimpangan yang dilakukan oleh kelompok radikalis. Ulah mereka telah membuat resah di kalangan banyak bangsa. Oleh karena itu, diperlukan adanya solusi agar generasi mendatang tidak terpengaruh oleh penyimpangan mereka. Salah satu solusi yang bisa dipilih adalah membudayakan penggunaan bahasa atau perkataan santun yang diajarkan oleh Al Qur’an.

 

Kata kunci: bahasa santun,  radikalisme

Hakikat Agama Islam

Secara terminilogis Islam berasal dari kata aslama-yuslimu-islam, yang berarti (1) melepaskan diri dari segala penyakit lahir maupun batin, (2) kedamaian dan keamanan, dan (3) ketaatan dan kepatuhan (Azra dkk, 2002: 246). Abu Dawud (1996: 46) menyatakan bahwa secara syar’I Islam berarti berserah diri kepada Allah Ta’ala, tunduk kepada-Nya, serta mentaati perintah-perintah-Nya. Islam diturunkan ke dunia melalui seorang Rasul yang paling cinta damai, paling besar harapannya akan keselamatan dan kerukunan umatnya.

Di dalam Al Qur’an surat Al Taubah ayat 128 dinyatakan salah satu sifat Rasulullah SAW yang terjemahannya sebagai berikut: ”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan  bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” Di dalam ayat ini disebutkan beberapa sifat beliau, yaitu aziizun ’alaihi maa ’anittum (berat terasa olehnya penderitaanmu),  hariisun ’alaikum (sangat menginginkan  bagimu), dan bil mu’miniina rauufurrahiim (amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin). Ada empat sifat mulya yang Allah berikan kepada beliau, yang tiga di antaranya lafalnya sama dengan sifat Allah, yaitu aziizun, rauufun, dan rahiimun. Hal ini menunjukkan bahwa kemulyaan sifat beliau sulit untuk digambarkan, sehingga dipilihlah sebagian sifat Allah yang digunakan untuk mengungkapnya. Tentu makna yang dikandung berbeda dengan manakala sifat tersebut digunakan untuk mensifati Allah SWT.

Paparan tersebut hanyalah sebagian dari sifat Rasulullah SWT. Secara komprehensif dikatakan bahwa akhlak beliau adalah Al Qur’an. Beliaulah yang menunjukkan secara nyata bagaimana penerapan kandungan Al Qur’an dalam hidup beragama (hablum minallah) dan hidup bermasyarakat (hablum minannas) secara proporsional untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dengan sifat-sifat dan prilaku yang mulia itu Islam disampaikan kepada umat dengan penuh kedamaian dan menjunjung tinggi kerukunan. Beliau tidak hanya sayang kepada umat Islam, tetapi juga sangat menginginkan berimanannya orang-orang yang belum mendapatkan hidayah. Untuk itu, beliau tidak pernah menaruh dendam terhadap orang-orang yang sebelum masuk Islam sangat gigih didalam memusuhinya. Jadi, kalau seseorang ingin menjadi mukmin yang sesungguhnya maka tidak ada cara lain kecuali meneladani beliau dalam merepresentasikan Islam sebagai Agama yang paling menjunjung tinggi perdamaian.

SELENGKAPNYA