Kamis, 30 Juni 2016 - 09:33:24 WIB
MODEL PENDIDIKAN PESANTREN YANG TOLERAN DAN INKLUSIF BERBASIS CULTURE OF PEACE EDUCATION SEBAGAI UPAYA MENGIKIS RADIKALISME ATAS NAMA AGAMA
Diposting oleh : Tomy Dwi Susanto
Kategori: Produk dan Layanan - Dibaca: 555 kali

MODEL PENDIDIKAN PESANTREN YANG TOLERAN DAN INKLUSIF BERBASIS CULTURE OF PEACE EDUCATION SEBAGAI UPAYA

MENGIKIS RADIKALISME ATAS NAMA AGAMA

Yusuf Hanafi

Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

E-mail: sufi_rmi@yahoo.com

 

Abstrak: Karakter otentik pesantren Indonesia, khususnya pesantren tradisional, adalah sangat toleran, kaya dengan kearifan lokal, dan jauh dari budaya dan ideologi kekerasan. Ironisnya, kini pesantren mendapat stigma negatif sebagai lembaga yang mengajarkan ekstrimisme dan radikalisme, pasca terkuaknya fakta bahwa hampir seluruh aksi terorisme di Tanah Air dalam satu dasawarsa terakhir didalangi oleh orang-orang pesantren, khususnya yang berafiliasi ke Pesantren al-Mukmin Ngruki Solo pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Untuk menghilangkan stereotip tersebut, dibutuhkan ikhtiar jama’i yang serius guna menghidupkan kembali karakter pesantren yang genuine melalui revitalisasi budaya toleransi dan moderatisme ke dalam sistem pendidikannya. Selaras dengan itu, pesantren sejatinya sangat potensial dan strategis untuk ikut serta dalam program Pendidikan Budaya Damai (Culture of Peace Education) yang dicanangkan UNESCO sejak tahun 2001—di mana tujuannya adalah mewujudkan sistem pendidikan yang kondusif bagi pengajaran HAM, demokrasi, dan budaya damai di semua jenjang, baik formal maupun informal. Tulisan ini bertujuan untuk mengenalkan model pendidikan toleran dan inklusif berbasis konsep Culture of Peace Education untuk dunia pendidikan pesantren guna mengikis radikalisme atas nama agama yang endemic belakangan ini.

 

Kata-kata kunci:

Pendidikan Budaya Damai, Culture of Peace Education, radikalisme atas nama agama.

 

Prolog

            Ketika belum hilang shock akibat rentetan teror dan aksi kekerasan berselubung doktrin jihad, khususnya dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2011, di tahun 2014 ini kita kembali dikejutkan oleh deklarasi-deklarasi dukungan kepada Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS—yang dikenal sangat radikal dan ganas) dan rekrutmen mujahidin untuk diberangkatkan berjihad ke Timur Tengah. Rentetan peristiwa di atas semakin membelalakkan mata kita bahwa radikalisme dan terorisme masih menjadi bahaya laten di negeri ini.

Sebelumnya, peristiwa-peristiwa kekerasan lain yang menjurus pada aksi radikalisme dan terorisme hampir tidak pernah sepi bahkan cukup mendominasi pemberitaan di media massa. Kekerasan demi kekerasan menjadi tontonan rutin dan diskusi hangat di televisi. Pelaku dan motifnya pun sangat beragam, mulai yang berlatar belakang agama, politik, ekonomi, sosial, etnik, olahraga, dan lain-lain. Namun yang menjadi sorotan dan perhatian utama, baik di tingkat nasional maupun internasional, adalah kekerasan yang bermotif ideologi agama.

Klimaksnya, pasca tragedi Bom Bali I, 12 Oktober 2002, media nasional dan internasional banyak menyorot keterkaitan pesantren dengan gerakan terorisme. Hal itu didasarkan pada fakta bahwa semua pelaku teror tersebut adalah orang-orang pesantren. Trio bersaudara—Mukhlas, Amrozi, dan Ali Imron—adalah keluarga Pesantren al-Islam Lamongan Jawa Timur, di samping juga alumni Pesantren al-Mukmin Ngruki Solo. Pelaku-pelaku yang lain pun ternyata ada kaitan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan Pesantren al-Mukmin Ngruki pimpinan Abu Bakar Ba’asyir.

Temuan ini kemudian memunculkan stigma negatif terhadap dunia pesantren yang dianggap sebagai lembaga yang mengajarkan radikalisme dan terorisme. Pemerintah pun kemudian merekomendasikan untuk mengadakan pengawasan dan sweeping terhadap pesantren. Bahkan kala itu sempat muncul wacana pengambilan ”sidik jari” bagi para santri pesantren, meski kemudian urung dilaksanakan setelah mendapat tentangan dari banyak pihak.

Tentu saja stigma tersebut ditolak oleh mayoritas pesantren di Indonesia, terutama pesantren yang berideologi moderat. Mereka pun kemudian, dalam berbagai forum dan media, mengkampanyekan bahwa mainstream pesantren di Indonesia adalah moderat dan anti-radikalisme. Pesantren yang berfaham radikal, seperti Ngruki dan jaringannya, hanyalah segelintir pesantren di antara tidak kurang dari 17.000 pesantren yang ada di Indonesia. Baru-baru ini, NU—sebagai induk organisasi dari sebagian besar pesantren di Indonesia—bersama 12 ormas Islam lainnya mendeklarasikan kesepakatan bersama menentang segala bentuk ekstrimisme dan radikalisme dengan mengatasnamakan agama. Mereka meminta pemerintah untuk memantau, mengevaluasi, serta bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok ataupun ormas-ormas yang bertingkah dan bertindak radikal, karena dianggap telah menodai citra dan substansi Islam itu sendiri (Republika, 06/08/2010).

Menghilangkan stigma negatif tersebut memang bukan persoalan mudah, butuh waktu dan ikhtiar kolektif yang sungguh-sungguh dari semua elemen pesantren untuk menghidupkan kembali dan merevitalisasi budaya toleransi, perdamaian, dan moderatisme dalam sistem pendidikannya. Sebagai institusi pendidikan yang indigenous di Indonesia yang telah berabad-abad berkontribusi membentuk watak dan karakter Muslim Indonesia, pesantren seharusnya berpotensi menjadi salah satu basis, baik secara diskursif maupun moral-praksis, dalam menangkal arus radikalisasi Islam yang menjadi endemic saat ini. Sejalan dengan hal itu, Abd. Rahman Assegaf berpendapat bahwa penanaman nilai-nilai agama, termasuk di dalamnya melalui institusi pesantren, yang berwawasan HAM merupakan upaya preventif dalam menangani konflik dan kekerasan (Assegaf, 2004: 182).

            Dalam konteks inilah, UNESCO pada tahun 2001 mencanangkan Pendidikan Damai (Peace Education) atau Pendidikan Budaya Damai (Culture of Peace Education). Program ini pertama kali dielaborasi oleh UNESCO pada saat Kongres Internasional tentang Perdamaian di Yarnoussoukro, Cote d’Ivoire pada 1989. Tujuan program tersebut adalah untuk membentuk sistem pendidikan yang komprehensif bagi HAM, demokrasi, dan budaya damai. Oleh UNESCO, program ini dijalankan untuk semua sistem pendidikan pada jenjang yang berbeda-beda, baik pendidikan formal maupun informal (Assegaf, 2004: 85-86).

Berpijak atas pemikiran dan analisis situasi tersebut di atas, tulisan konseptual ini menemukan ruang relevansi dan signifikansinya. Tulisan ini menggagas pendidikan pesantren berbasis toleransi dan multikulturalisme yang bercirikan: (1) keseimbangan antara pengajaran hukum Islam dengan legal formal; (2) pendidikan dakwah yang responsif dengan kondisi dan psikologi masyarakat; (3) pembinaan akhlak atau tasawuf yang dialektis dengan norma-norma masyarakat, dan (4) penanaman nilai-nilai humanitas dan HAM. Penulis meyakini, jika keempat karakteristik pendidikan berbasis toleransi dan multikulturalisme tersebut diadaptasi oleh pesantren-pesantren lain dalam kurikulum pendidikan maupun praktik pengajarannya, maka dunia pesantren akan melahirkan generasi-generasi Muslim yang moderat dan inklusif.

Sekali lagi, pesantren sejatinya sangat potensial dan strategis untuk ikut berperan-serta dalam program Culture of Peace Education yang dicanangkan UNESCO di atas. Sebagai lembaga pendidikan yang menekankan pada pendidikan karakter dan moralitas, pesantren justru dapat menjadi pusat persemaian generasi-generasi Muslim yang cinta damai, moderat, dan anti kekerasan. Sebab, karakter otentik pesantren Indonesia, khususnya pesantren tradisional, adalah dikenal sangat ramah, toleran, berbaur dengan masyarakat, kaya dengan kearifan lokal, dan jauh dari budaya dan ideologi radikal. Hal ini tentunya sangat sejalan dengan prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam program Culture of Peace Education.

Tulisan ini ingin membuka mata publik perihal wajah pesantren Indonesia yang sesungguhnya. Stigma negatif yang didakwakan kepada pesantren sebagai sarang pembibitan teroris akan segera terkikis. Pesantren justru akan menjadi ”juru bicara” Islam kepada dunia yang menegaskan secara lantang bahwa Islam adalah agama damai yang menentang segala bentuk radikalisme dan terorisme.

SELENGKAPNYA