Kamis, 30 Juni 2016 - 09:35:06 WIB
STRATEGI EDUKATIF DERADIKALISASI SIKAP DAN PRILAKU KEAGAMAAN: TELAAH MATERI DERADIKALISASI DI BUKU AJAR MATAKULIAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI UNIVERSITAS NEGERI MALANG (UM)
Diposting oleh : Tomy Dwi Susanto
Kategori: Produk dan Layanan - Dibaca: 553 kali

STRATEGI EDUKATIF DERADIKALISASI SIKAP DAN PRILAKU KEAGAMAAN:

TELAAH MATERI DERADIKALISASI DI BUKU AJAR MATAKULIAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI UNIVERSITAS NEGERI MALANG (UM)

Achmad Sultoni

Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

Email: Ahmadsulton24@yahoo.com

 

Abstrak: Akhir-akhir ini sikap dan prilaku kekerasan atas nama agama yang dilakukan pemeluk Islam sering muncul di masyarakat. Sikap dan prilaku radikal tersebut terjadi tidak hanya di tingkat internasional, tapi juga di level nasional, regional, bahkan lokal. Oleh karena itu diperlukan rencana dan upaya sungguh untuk mengatasinya demi terciptanya kehidupan umat beragama yang toleran, tenang, dan damai. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui bidang pendidikan, yakni dengan memberikan materi pembelajaran yang bersifat menderadikalisasi sikap dan prilaku radikal kepada peserta didik. Dalam konteks ini penting dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi materi deradikalisasi sikap dan prilaku keagamaan di buku ajar PAI UM yang berjudul ”Pendidikan Islam Transformatif: Menuju Pengembangan Pribadi Berkarakter”. Melalui metode penelitian deskriptif kualitatif diperoleh tiga temuan: pertama, terdapat empat bab di buku PAI UM yang mengandung materi deradikalisasi, yakni bab IV hukum Islam dan perbedaan mazhab, bab XI politik dan cinta tanah air dalam perspektif Islam, bab XII gerakan dan organisasi Islam modern di indonesia, dan bab XIII jihad, radikalisme agama, dan muslim moderat; kedua, materi deradikalisasi secara umum disajikan dengan baik, rasional, kontekstual, dan disertai dalil al-Qur’an-hadits; ketiga, materi deradikalisasi mencakup deradikalisasi sikap dan prilaku terhadap: pemeluk Islam, pemeluk agama lain, organisasi masyarakat, dan negara.

 

Kata-kata kunci: deradikalisasi, sikap dan prilaku keagamaan, buku ajar PAI, toleransi.

 

Pendahuluan

Sikap dan prilaku bernuansa kekerasan oleh sekelompok umat Islam di Indonesia yang dilakukan atas nama agama beberapa tahun terakhir menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan muncul terutama setelah munculnya pemberitaan tentang kelompok Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) di media massa yang dikabarkan melakukan tindakan sadis berupa pembunuhan yang kejam terhadap orang atau kelompok yang menghalangi tindakan mereka (http://wartakota.tribunnews.com/2014/10/22). Terlebih lagi dikabarkan bahwa organisasi radikal transnasional ISIS muncul di Indonesia dan melakukan perekrutan anggota. Di Jakarta, pihak Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah merasa kecolongan karena terjadi deklarasi mendukung ISIS di kampus mereka.

(http://wartakota.tribunnews.com/2014/08/07).

Sikap dan tindak kekerasan atau yang disebut juga radikalisme yang dilakukan umat Islam atas nama agama Islam sering terjadi di Indonesia, baik dalam bentuk sikap dan ucapan menyalahkan pihak lain maupun dalam bentuk kekerasan bahkan penghilangan nyawa. Bom Bali, bom JW Marriot, penolakan dan kekerasan terhadap pengikut Ahmadiyah di Bogor dan Syiah di Madura adalah sebagian diantara banyak contoh tindak kekerasan yang dilakukan atas nama Islam (Nasih, 2014: 9-10).

Sikap dan prilaku radikal atas nama agama juga terjadi di lingkungan mahasiswa. Kampus perguruan tinggi yang dikenal sebagai dunia ilmiah dan tempat para intelektual juga tidak steril dari radikalisme umat beragama. Tahun 2011 diberitakan organisasi NII yang dikenal radikal dan ingin mendirikan negara Islam Indonesia melakukan perekrutan anggota dari kalangan mahasiswa di berbagai kampus di Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Malang (http://www.umm.ac.id). Selain itu, sebuah organisasi keIslaman yang ingin mendirikan khilafah Islamiyah berlandaskan syariat Islam dan disinyalir ingin merubah Indonesia menjadi negara Islam bahkan eksis di kampus-kampus PTU dan menjadikan mahasiswa sebagai sasaran utama dakwah mereka (Nasih, 2014: 91).   

Kondisi diatas sangat memprihatinkan dan mencemaskan umat Islam di Indonesia. Idealitas ajaran Islam yang mengajarkan ukhuwah Islamiyah dan rahmat bagi alam semesta seakan luntur dan tidak kelihatan. Untuk mengatasipermasalahan ini diperlukan kerjasama berbagai pihak agar hasilnya efektif. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengajarkan dan menyebarkan sikap dan prilaku anti radikal melalui lembaga pendidikan di tingkat SMA maupun perguruan tinggi. Hal ini bisa dilakukan antara lain melalui ceramah agama secara insidental maupun secara lebih sistematis dengan cara memasukkan materi deradikalisasi sikap dan prilaku keagamaan ke dalam matapelajaran atau matakuliah tertentu yang dipandang relevan (Nasih dkk.: 2014, 106). Di tingkat perguruan tinggi, upaya ini dapat dilakukan melalui matakuliah agama dan PPKn yang dirancang sedemikian rupa agar mampu mendorong mahasiswa memiliki sikap toleran dan menghormati pihak lain yang berbeda keyakinan atau agama.   

SELENGKAPNYA