Kamis, 30 Juni 2016 - 09:36:57 WIB
RESOLUSI JIHAD DAN LASKAR SABILILLAH MALANG DALAM PERANG MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN SURABAYA 10 NOPEMBER 1945
Diposting oleh : Tomy Dwi Susanto
Kategori: Produk dan Layanan - Dibaca: 487 kali

RESOLUSI JIHAD DAN LASKAR SABILILLAH MALANG DALAM PERANG MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN SURABAYA 10 NOPEMBER 1945

Najib Jauhari

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang

Email: najibsejum@yahoo.co.id

 

Abstrak: Periode awal kemerdekaan Indonesia, kehidupan berbangsa banyak ditandai dengan perjuangan fisik untuk mempertahankan kedaulatan Negara. Hal ini dikenal dengan nama Periode Perang Kemerdekaan (1945-1949). Laskar Sabilillah adalah salah satu organisasi perjuangan umat Islam pada masa Perang Kemerdekaan. Perumusan permasalahan adalah latar belakang terbentuknya laskar, struktur organisasi, peranan dalam perang kemerdekaan (Perang Surabaya), kekuatan, strategi, jalannya pertempuran dan akhir perang. Metode kajian berdasar tiga sumber data utama, yaitu wawancara terhadap para saksi, observasi artefaktual dan kepustakaan. Adapun hasilnya meliputi pembentukan laskar berdasar Resolusi Jihad Nahdlotul Ulama’ dan keputusan Kongres Masyumi. Keorganisasian laskar sebagai bagian dari Partai Masyumi, serta berperan secara aktif dalam Perang Surabaya 10 Nopember 1945.

 

Kata kata Kunci: Resolusi Jihad, Laskar Sabilillah Malang, Perang Surabaya.

 ”Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS.Al-Baqoroh:190).  

 

Salah satu sebab konflik di dunia, dari masa kuno hingga kontemporer, adalah masalah perbatasan. Dari konflik Sparta melawan Athena, hingga konflik masa sekarang antara Palestina melawan Israel, atau di negeri sendiri, Indonesia sering ribut dengan tetangga Malaysia masalah daerah perbatasan, baik di darat, di laut maupun di udara. Daerah perbatasan inilah sebagai batas wilayah kedaulatan, yang telah diproklamasikan sejak hari Jum’at, tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan bulan Romadhon, sebagai anugerah sekaligus amanah Allah kepada bangsa Indonesia, maka harus dilindungi.

Berbagai monumen perjuangan didirikan, baik di daerah pusat pemerintahan, hingga di pelosok batas perbatasan negara. Monumen Nasional, Tugu Proklamasi di Jakarta, Tugu Pahlawan di Surabaya, hingga monumen NKRI di ujung barat Sabang Aceh dan ujung timur Merauke Papua, didirikan untuk mengenang perjuangan menegakkan kedaulatan. Diharapkan dengan dibangunnya monumen-monumen tersebut, generasi penerus mampu mensuritauladani para pejuang, yang rela mengorbankan diri demi kedaulatan dan generasi yang lebih baik. Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada para pejuang, juga adalah salah satu upaya pemerintah dalam usaha melestarikan semangat Cinta Tanah Air yang patut ditiru umat.

Monumen yang sedikit sekali masyarakat mengetahuinya sebagai monumen perjuangan umat Islam dari masa Perang Kemerdekaan adalah Monumen Laskar Sabilillah. Meskipun letaknya ditempat yang strategis, yaitu pertigaan Jalan Ahmad Yani dan Jalan Borobudur Kota Malang. Hal ini dikarenakan bentuk dari monumen yang unik, yaitu berbentuk Masjid. Jika dibandingkan dengan beberapa monumen yang lain, justru Monumen Laskar Sabilillah ini bentuknya sangat monumental atau besar (lihat lampiran foto).

SELENGKAPNYA